'Orang yang sudah berusia diatas lima puluh tahun atau mendekati pensiun, itu sudah seharusnya memikirkan bekal setelah mati dengan menambah ibadah. Misalnya sering ke masjid atau banyak membaca al Qur'an, Yaa... pak Haji Romadhon, ya', demikian pernyataan Pak Ril, pada penulis suatu waktu. Ternyata bincang-bincang santai antara Pak Ril dengan penulis menjadi isyarat Beliau mau meninggalkan kita semua, sekaligus menjadi nasehat bagi kita yang masih hidup.
Tak terasa, sudah tujuh hari Pak Ril mendahului kita, untuk menghadap Sang Illahi. Tentu banyak sekali kenangan atau nostalgia selama bergaul dengan beliau. Kecerdasan, senyuman, keceriaan dan guyonan, ketika bersama beliau masih segar dalam ingatan.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, tujuh hari yang lalu Pak Ril yang tempat duduk ada di deretan depan, tetapi hari itu duduk di kursi Penulis. Dan memang tempat duduk penulis, menjadi tempat yang teruenak bagi Pak Ril, untuk istirahat dalam rangka menunggu giliran jam pembelajaran berikutnya.
Pak Ril memang terlihat santai dalam kesehariannya, tetapi ketika di dalam kelas sangat serius. Suatu ketika setelah pembelajaran beliau, Penulis masuk di kelas tersebut, papan tulis penuh dengan tulisan beliau dalam pembahasan soal fisika. Awalnya setengah tidak percaya tetapi setelah ditanyakan pada siswa, 'ini tulisan siapa?'. Serempak mereka menjawab, 'tulisan pak Ril'. Wow, sangat rapi dan detail.
Pernah suatu ketika, adu cepat dalam menghitung perkalian dalam tiga digit, dengan teman yang menggunakan kalkulator. Dan hasilnya Pak Ril, lebih dahulu menjawab dan jawabannya benar. Memang Pak Ril memiliki kecerdasan luar biasa.
Karena kecerdasan yang dimiliki oleh Pak Ril, penulis sarankan untuk digunakan menghafal al Qur'an. Dan Alhamdulillah, beliau yang diusia 56 tahun memulai menghafal al Qur'an dan diakhir hayatnya membawa 3 juz lebih hafalan Qur'an.
Sekarang almarhum sudah tidak lagi bisa dijumpai secara fisik, kecuali kiriman do'a yang terucapkan dari lisan kita. Harapannya adalah semoga amal ibadahnya diterima dan segala dosanya diampuni oleh Sang Illahi Robbi.
Ada hikmah yang bisa diambil dibalik mengingat kematian seseorang dan hal tersebut, sangat penting untuk dilakukan. Adapun pentingnya mengingat kematian atau 'dzikrul maut' untuk dilakukan, adalah sebagai berikut:
Datangnya Ajal Tidak Pandang Bulu
Jika kematian datang, maka hal tersebut akan terjadi kepada siapa saja, dan tidak pandang bulu. Kematian akan datang kepada yang kaya-miskin, sehat-sakit, tua-muda, pejabat-rakyat jelata, yang shalih-yang durhaka, tanpa kecuali.
Tidak ada jaminan mereka yang kaya, dengan kekayaannya bisa menunda kematian ketika ajal menjemput. Mungkin dengan kekayaan yang mereka miliki bisa membeli obat, bisa membeli jasa dokter dan perawatan dengan fasilitas canggih, tapi ketika ajal datang kepada mereka maka tidak bisa menolaknya.
Begitu juga mereka yang dalam kondisi sehat, dan tidak ada gejala sakitpun, kalau ajal kematian mendatanginya tidak bisa menolaknya. Mungkin kita sering mendengar sebuah kabar, seseorang sakit mendadak, padahal tidak pernah diketahui ada gejala sakit sebelumnya dan mati mendadak tiba-tiba. Hal tersebut bisa saja terjadi. Hal tersebut yang dialami Pak Ril.
Ajal kematian juga tidak mesti selalu menemui mereka yang berusia tua. Banyak sekali mereka yang berusia muda, atau anak-anak juga mengalami kematian. Entah diawali dari kondisi sakit, kecelakaan, ditembak atau yang lainnya, jika ajal datang maka tidak bisa ditunda walaupun mereka berusia muda.
Seorang pejabat dengan kekuasaan yang dimiliki, termasuk dengan perintah dan wewenang yang dimiliki, tidak bisa menolak jika ajal datang menemuinya. Ajal akan tetap datang menghadap, tanpa melalui prosedural dan SOP kepada sang pejabat tersebut. Kalau memang kematian datang, dengan kedudukan yang dimiliki tak bisa menjamin menundanya, walaupun sebentar.
Selalu Siap Mati Dengan Bekal Adalah Solusi
Sikap seorang muslim yang yaqin akan datangnya sebuah ajal kematian, akan selalu siap menghadapinya. Sehingga siapa saja kedudukannya, baik kaya-miskin, sehat-sakit, tua-muda, berpangkat-rakyat jelata, akan selalu siap dengan datangnya kematian. Seorang muslim justru menempatkan rasa takut terhadap mati, ketika tiadanya bekal untuk mati.
Sungguh seorang muslim akan beruntung dan berbahagia jika mengisi hidupnya dengan ketaqwaan dan amal shalih; taat dan patuh kepada Allah SWT. Dia yaqin dengan hal tersebut akan mendapatkan balasan surga, pasca kematiannya.
Begitu juga sebaliknya seorang muslim akan merasa merugi dan celaka, jika dalam hidupnya dipenuhi dengan kekufuran, kemaksiatan dan kesombongan; serta tidak memenuhi perintah Allah SWT. Karena dia mengetahui dan yaqin dengan hal tersebut akan mendapatkan balasan neraka, pasca kematiannya. Nah senada dengan nasehat Pak Ril, di atas. (MasHRom)
SMAN 1 KEDUNGADEM